Kaligrafi style mesin

Kalian pasti berkata blog ini adalah blog tidak bermutu. Tidak apalah memang aku ingin menulis berbeda dengan yang lain.Punya karakter dan gaya bicara tersendiri. Santai dan apa adanya, tidak perlu resmi atau seperti materi anak kuliah. Cukup seperti omongan di warung kopi, bla bla bla dan gampang dimengerti. Mungkin kalian akan menemukan juga antara judul dan isi kurang pas 100 % (memang aku sengaja biar gampang di index sama mbah google..he..he..he p:)

Ceritanya begini, pada era tahun 90-an aku sempat mengekplorasi lukisan kaligrafi yang diilhami oleh seorang pelukis yang karyanya sempat menang dalam acara bergengsi lomba lukis yang diadakan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia-Philip Morris Indonesian Art Awards. Nama beliau adalah Sugiarso Widodo.

Karena kemauan kerasku maka jadilah lukisan kaligrafi yang bermotif mesin. Aku tidak ikut-ikutan dalam berkarya, akan tetapi ada keinginan untuk mengekplorasinya, ada rasa ingin tahu serta penasaran dan membayangkan bagaimana kelak wujudnya bila karya itu telah selesai aku kerjakan.

Dari keinginan yang membara itu maka lahirlah salah satu karya yang bermotif mesin. Ayat yang aku tampilkan adalah Bismillah. Aku merasa senang dan bangga, walaupun karya itu tidak murni dari ide sendiri alias dapat ilham dari pelukis lain. Dalam berkarya aku berprinsip : Tidak perlu malu meniru gaya pelukis lain untuk dijadikan pijakan awal dalam melahirkan sebuah karya. Sebab secara alami dulu saat kita masih bayi, kita juga tidak malu minta disuapin makan sama ibu. (Barangkali prinsip ini salah sebaiknya kalian abaikan saja).

Belum kenyang mengekplorasi lukisan kaligrafi mesin. Tiba-tiba datanglah kesempatan tawaran untuk pameran bersama. Waktu itu aku kedatangan  para senior dan dedengkot para pelukis Gresik. Ini adalah kesempatan besar pameran bersama yang didukung oleh salah satu perusahaan raksasa di kotaku. Karena begitu bernilainya pameran ini maka pihak penyelenggara berusaha untuk tidak main-main. Para seniorku ingin menunjukkan pada PT. Semen Gresik sebagai pihak penyandang dana. Bahwa mereka telah bekerja serius. Semua peserta yang dilibatkan diharuskan menampilkan karya yang benar-benar original. Maka diadakanlah survey kelayakan (..ha..ha..ha kayak mau terima kartu pengobatan miskin saja p:). Dengan sedikit malu dan bangga maka aku tunjukkan karya terbaruku.

Ternyata ada aroma kecewa yang menyembul dari raut wajah seniorku. Dengan halus bertutur kata : ” Maaf ya, sebaiknya kamu jangan pakai lukisan yang jenis ini. Karena lukisan ini terinspirasi dari pelukis yang berdomisili di kota Surabaya. Sedangkan rencana pameran bersama nanti akan diadakan di kota Surabaya. Coba kamu tampilkan karya kaligrafi yang lain, aku yakin kok kamu pasti dapat membuatnya. “……

Semenjak itu aku sudah tidak ada nafsu untuk melanjutkan atau mengekplorasi lukisan kaligrafi mesin. Bahkan karya yang aku hasilkan ini tidak sempat aku tandatangani. Peristiwa ini  adalah pukulan berat bagiku, tapi bagaimanapun juga aku harus bisa menerimanya, aku harus berjiwa besar.

Dan pameran itupun terlaksana walaupun karya yang aku tampilkan tidak maksimal seperti yang aku inginkan. Aku berimprovisasi melahirkan karya kaligrafi dengan style terbaru yang original lahir dari pemikiranku sendiri. Ingin tahu lukisan kaligrafi style mesinku ?

Bismillah

 Bye..bye..see you next time.

Kaligrafi

Sekitar tahun 2000-an (kebawah dikit beberapa tahun ) aku pernah menjelajah obyek lukisan bertemakan islami, awalnya pemikiran untuk melukis dengan objek kaligrafi adalah hasil panggilan bathin. Aku dilahirkan di kota yang terkenal dengan sebutan kota santri yang memiliki banyak Wali Allah. Ya Gresik nama kotaku, sebuah kota di pesisir timur pantai utara pulau Jawa.

Ketika aku berkumpul dengan teman-teman pelukis di kotaku aku merasakan ada sesuatu yang kurang, walaupun Gresik adalah kota setingkat kabupaten, akan tetapi menyimpan banyak sekali para pelaku seni. Dan diantara teman-teman perupa kenapa mereka jarang sekali yang mau mengexplorasi objek lukisan kaligrafi. Karena penasaran dan ingin tahu tentang kaligrafi islami maka saya mencoba untuk masuk dan mencari tahu mengapa objek ini jarang disentuh oleh teman-temanku.

Mulailah aku belajar tentang huruf-huruf hijaiyah, belajar alif-bak-tak dan jim (he..he..he). Belajar autodidak beli buku di kaki lima pengarangnya M. Misbahul Munir, waktu itu bukunya masih seharga Rp. 5.000-an. Aku beli di salah satu pedagang kaki lima di kotaku. Dari buku ini aku mengerti banyak tentang kaidah-kaidah penulisan kaligrafi, bahkan aku mulai mengerti tentang penulisan dan gaya. Seingat aku ada beberapa macam khat diantaranya Khufi, Diwani, Tsuluts dan lain-lain. Maklum jelek-jelek begini waktu kecil aku sempat ngaji di Pak Modin dan juga sekolah di Madrasah sampai kelas 3. Barang kali buku kecil ini mempengaruhi bahkan memberiku sumbangsih ilmu yang begitu besar padaku. Aku hampir menguasai salah satu gaya penulisan Khat Tsuluts. Tentunya untuk menjadikan sebuah karya, aku tidak begitu saja menulis lalu mentransfernya di atas kanvas. Aku berusaha untuk konsultasi sama orang-orang yang ahli agama. Kebetulan juga sih tetanggaku mantan juara Qori MTQ walaupun di tingkat provinsi sudah gugur (komplit deh…lagi mujur P:). Bukunya seperti ini lho :

Buku Kaligrafi

Buku itu sekarang sudah lecek karena tiap hari aku bolak-balik buat sinau. Dari buku kecil ini aku telah pandai membuat rangkaian huruf untuk membentuk salah satu ayat yang ada di dalam kitab suci Al-Qur’an. Bahkan diantara teman pelukis sempat ada yang bertanya. Lho kamu kok bisa membuat rangkaian tulisan kaligrafi padahal kamu bukan lulusan atau alumni dari salah satu pondok pesantren.

Waktupun berlalu sudah banyak karya lukis kaligrafi yang aku hasilkan, bahkan karena terlalu seringnya aku berlatih maka menumpuklah karya-karya yang berukuran dalam format 40 x 50 cm atau 50 x 60 cm. Pada masa itu sebelum Krisis Moneter masyarakat di sekitar kotaku lagi tren memelihara burung berkicau dan menggemari batu akik. Namanya juga pelukis ingin juga ikut-ikutan, cuma bedanya kalau mereka beli pakai uang tapi aku tidak. Aku barter beberapa lukisanku dengan batu akik dan burung berkicau.

Suatu hari saat aku berkumpul di studio lukis (milik adik iparku yang juga seorang pelukis) di Jl. Raya Roomo Gresik datanglah teman adik iparku. Dia bekerja di salah satu dealer sepeda motor. Ia menawarkan kepadaku sebuah kerjasama, aku disuruh membuat lukisan repro. Katanya buatlah lukisan repro sekuat tenaga kamu dan hasilnya akan aku beli. (harganya waktu itu boleh dibilang mahal juga tidak murah juga bukan-sekitar ratusan ribu-ssttt rahasia dong) maklum menjual lukisan di kotaku tidak segampang menjual nasi goreng atau handphone.

Namanya juga pelukis mendapat tawaran seindah itu, aku hanya mampu menyelesaikan sekitar 20-an lukisan dalam kurun waktu 5 tahunan. Memang susah juga kalau jiwa seni sudah terlalu masuk ke jiwa, sulit sekali memposisikan diri dimana harus jadi tukang dan saatnya untuk menjadi pelukis.

Sepertinya aku harus mengakhiri tulisan ini. Dan sebagai penutup kalian bisa melihat aku yang sedang bergaya di depan lukisan kaligrafiku. Lukisan ini adalah salah satu style yang sempat aku explor. Dan dipamerkan di Gedung SOR Tridharma Petrokimia Gresik sekitar tahun 2012.

Pameran 2012

Silahkan dicermati.

Tidak ada judul

Aku tidak tahu harus menulis apa ditempat ini, sebab aku bukanlah seorang ilmuwan, atau seorang ahli psykologi bahkan aku tidak tahu sama sekali dunia bisnis dan lain-lain.  Diriku sebenarnya bukanlah tergolong manusia yang bodoh dan pemalas, sebab aku terkadang juga dengan penuh semangat mempelajari sesuatu yang aku ingin bisa menguasainya.

Sepeninggal ayah dan ibuku setahun yang lalu hidupku menjadi hampa, walaupun aku telah berkeluarga dan dikaruniai 3 orang anak. Semua anak-anakku sekarang sedang menempuh pendidikan. Bagiku pendidikan adalah hal penting untuk mendampingi dunia spiritual. Kata orang bijak carilah ilmu buat bekal dunia dan belajarlah agama untuk bekal di akhirat.

Barangkali kehampaan hidupku terjadi karena kandasnya cita-citaku. Masa remajaku telah kuhabiskan di dunia kesenian, entah mengapa diriku juga tidak dibekali dengan bakat yang superior di dunia seni akan tetapi jiwa seni telah melekat dalam darah dan dagingku.

Perjalanan waktu terus berlalu, dulu begitu indah dunia ini. Karena disaat itu kebutuhan hidupku masih disuplai oleh kedua orang tuaku. Mau beli cat gampang, mau beli pigora juga gampang, beli rokok juga gampang, mau ini mau itu serba gampang. Karena semua gampang maka imajinasi dan kreativitas kesenianku jadi bebas.

Setelah berkeluarga hidup belajar mandiri, cari makan sendiri, beli cat sendiri dan setelah dikaruniai anak bayar sekolah juga sendiri (walaupun terkadang masih ada bantuan dari ayah dan ibu). Dalam kurun waktu satu,dua tahun bahkan lima tahun perjalanan ekonomi terseok-seok maklum aku bukanlah seorang pekerja industri atau PNS, aku mencari makan dari bidang yang aku bisa, kadang bikin tulisan buat acara pernikahan, kadang bikin spanduk, macam-macamlah asal bisa dapat uang.

21 tahun usia pernikahanku dan sekarang keadaan ekonomiku lumayan bagus, ada perubahan apalagi setelah kedua orang tuaku meninggal aku dapat tinggalan warisan. Walaupun ekonomi keluarga lumayan meningkat akan tetapi kehidupan kesenianku belum bisa pulih seperti masa mudaku. Kini aku bekerja sebagai guru ekstra kesenian dari sekolah satu ke sekolah lainnya dan malamnya jaga warnet punyaku (kata tetanggaku warnet gak ngalor gak ngidul lak-lak tung) wis pokok-e lumayan lah.

Ternyata hidup ini tidak sepi dari persoalan dan itu aku alami, aku merasa belum mampu menyelesaikan persoalan, dari persoalan ekonomi konflik bathin dan lain-lain. Karena beban persoalan inilah hidupku jadi hampa, kadang aku berpikir ingin mendalami ilmu agama saja, karena usiaku sudah tidak lagi muda.

Akhir tulisan ini kira-kira begini :

Dulu aku punya cita-cita jadi seorang pelukis…dan sekarang ini aku masih tetap punya cita-cita jadi seorang pelukis….walaupun saat ini aku tidak pernah melukis…bingung ya… (ya begitulah aku, apa kalian bisa kasih solusi?)

Dan sebagai bukti kalau aku ini orang seni bukan abal-abal atau omong doang, kalian bisa lihat hasil goresan pensilku yang aku buat pada tahun 2015. Dia modelku adalah teman Facebook.

Yuyuk

Yayuk

Bye..bye see you next time